Berita Utama
Home > Karya Sipong-pong > Feature > Perjalanan dosenku semangat langkahku

Perjalanan dosenku semangat langkahku

Berprofesi sebagai seorang Dosen adalah pekerjaan yang selalu menghiasi hari-hari dari sosok yang saya banggakan. Meski mungkin, Dosen atau sering disebut Guru adalah profesi yang membutuhkan keahlian khusus. Bahkan, pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi banyaknya siswanya yang membuat banyak orang terpukau jika dirinya berada pada posisi profesi tersebut. Karena seperti yang kita ketahui, Pekerjaan sebagai dosen  ini tidak bisa dilakukan oleh seseorang tanpa mempunyai keahlian sebagai guru.

Menjadi seorang guru dibutuhkan syarat-syarat khusus, apa lagi jika menjadi seorang guru yang profesional maka harus menguasai seluk beluk pendidikan serta mengajar dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang harus dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu. Hingga kini kecintaanku terhadap sosok pendidik semakin bertambah, terlebih ketika dosen yang menjadi insprirasi tetap menjadi guru.

Nurhalimah tussa’diah SS MA yang kerap dipanggil mahasiswa “mam halimah”. Beliau lahir pada tanggal 17 juni 1969 merupakan sosok yang luar biasa dibalik profesi dan kehidupan yang dijalaninya. Saat ini, beliau menjalankan rutinitasnya sebagai dosen di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidkan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Meski usianya sudah diatas 40-an seakan tidak mengahalangi seluruh rutinitasnya, ia sangat senang karena Baginya usia bukanlah sebagai penghalang untuk profesinya.

Sejak SMP di Taman Harapan Medan dia sangat menyukai Bahasa Inggris yang pada masa itu anak yang pandai berbahasa inggris sangatlah dipuji, dan akhirnya kecintaan itu terus dikembangkannya. Tidak berhenti disitu berbagai perlombaan  utusan dari sekolah Di SMA N.7 yang membawa nama sekolah dalam berbagai perlombaan. “ sejak SMP sampai SMA membawa nama sekolah dalam perlombaan membuat saya semakin cinta terhadap Bahasa Inggris,” katanya.

Dari kecil beliau sudah terbiasa  mandiri tidak menggantungkan kehidupannya dengan orang tuanya, karena kepribadiannya yang selalu mendapatkan nilai bagus dan menjadi kebanggaan pihak sekolah sehingga sejak SMP dia sudah mampu membiayai kehidupannya walaupun orang tua meringankan sedikit keperluannya. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang murah senyum, supel, berbagai masalah bisa diatasinya  seakan  orang yang mengenalnya tiada beban dalam hidupnya. Saat berbicara dengan orang lain dia tidak mempermasalahkan Mahasiswanya yang tidak menyukainya namun seiring berjalannya waktu mahasiswa tau bahwa dia orang yang sangat di rindukan karakternya yang tampak santai. Penampilan kesehariannya pun terlihat rapi namun sederhana mengenakan jilbab layaknya wanita muslimah yang memang seharusnya menutupi auratnya baik diacara non-formal maupun saat mengajar dan berhadapan dengan mahasiswanya.

Anak keempat dari enam bersaudara ini lahir di Medan dari keluarga yang sederhana. Anak dari alm Rustam Efendi SZ  dan Mahrani sinaga  ini dibesarkan dengan latar belakang ayanhnya bertani. Masa kecilnya yang tinggal di daerah perkembunan,  yang membuat ia terus belajar dengan terus membaca buku sebagai wawasan hidupnya agar cita-cita yang ia harapkan untuk membanggakan orang tuanya tercapai.

Usahanya membiayai diri sendiri akhirnya bisa masuk ke salah satu perguruan tinggi swasta  Universitas Islam Sumatera Utara dengan mengambil Fakultas Bahasa dan Sastra Inggris, dia menjelaskan bahwa perjalanan kuliahnya sangatlah tidak mudah dibayangkan. Berbagai keluh kesah dirasakannya karena berbagai ekonomi yang harus dikeluarkannya. Tapi dengan menjadi siswa yang berprestasi akhirnya sedikit beban tersebut bisa di atasi.

“bukan hal yang mudah kuliah mengandalkan biaya sendiri, namun berkat kerja keras yang saya lakukan dan tekat saya agar kuliah tidak sia-sia akhirnya saya mendapatkan mahasiswa yang berprestasi yang selalu membawa nama kampus saya,” jelasnya.

 

Seiring berjalannya waktu dalam menuntut ilmu akhirnya dia mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikannya di Universitas Of pune Maharasta, India. suatu kebanggan dengannya dapat hidup di negara orang walaupun selama 2 tahun ia tidak pulang ke Indonesia dikarenakan masalah ekonomi yang harus ditahankannya.

 

Dia menceritakan bagaimana pendidikan yang dirasakan di India, sistem pendidikan yang  membuat mahasiswa disana harus mandiri semua tugas ditulis tangan. Berbeda di Indonesia yang semua bisa dikerjakan sistem Instan. Penduduknya disana juga menghargai negara lain yang sedang menimba ilmu dan akhirnya kehidupan disana membuatnya termotivasi dalam menjalani kesehariannya. “ pendidikan yang berbeda dari Indonesia sehingga membuat saya selalu mandiri setiap apapun yang saya kerjakan sehingga jerih payah saya membuahkan hasil,” ceritanya.

 

Setelah tamat dari kuliahnya, ia pulang ke Indonesia dan langsung melamar pekerjaan di UMSU yang merupakan langkah awal karirnya setelah perjuangannya menuntut ilmu. Akhirnya  ia diterima sebagai dosen tetap UMSU sebagai dosen Bahasa Inggris.

Mahasiswa yang juga menyukai sifat  dimiliki Halimah sangat termotivasi lama langkah kehidupannya. Muhammad Naufal Nusa mahasiswa FKIP Bahasa Inggris  memiliki perjalanan hidup yang  sama dengan halimah, dia mengatakan seharusnya banyak generasi sekarang yang memiliki jiwa seperti Halimah. Sehingga banyak yang termotivasi untuk terus meneruskan pendidikan meskipun harus bekerja keras tanpa membebani orang tua.

“ya kalau bisa, banyak mahasiswa yang memilki sifat yang sama seperti dia, jangan lihat dosen sebelah mata tapi lihatlah perjuangan mereka meneruskan citacitanya,ujarnya yang berharap dengan generasi sekarang.

Halimah tetap menjalankan tugasnya sebagai dosen mendidik penerus bangsa walaupun keadaan fisiknya sedang sakit.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

'
Animated Social Media Icons Powered by Acurax Wordpress Development Company
Visit Us On FacebookVisit Us On TwitterVisit Us On YoutubeVisit Us On Google Plus