Berita Utama
Home > Berita > Tere Liye Ceritakan Pengalaman Menulisnya di Seminar Kepenulisan Dinamika UIN-SU

Tere Liye Ceritakan Pengalaman Menulisnya di Seminar Kepenulisan Dinamika UIN-SU

teropongumsu.co– LPM DINAMIKA UINSU dalam pembukaan Pena Persma 2018 adakan Seminar Nasional Kepenulisan bersama penulis kawakan Tere liye, Sabtu (14/10). Diadakan di Gelanggang Mahasiswa Kampus I UIN-SU Sutomo, seluruh peserta terhanyut mendengar pengalaman menulis yang diceritakan Tere Liye.

Seminar dibuka secara resmi oleh Prof Dr Amroeni Drajat M Ag selaku Wakil Rektor III UIN-SU. Amroeni dalam sambutannya menghimbau agar seluruh mahasiswa rajin menulis. “Semua orang bisa menulis tapi tidak semua orang punya tulisan, untuk itu mahasiswa sebagai agen perubahan harus menggiatkan dirinya untuk menulis mengingat manfaat menulis yang amat banyak,” himbaunya.

Banyak peserta dari beragam kalangan seperti mahasiswa dan pelajar SMA antusias berpartisipasi dengan membawa buku-buku karangan Tere Liye.  Salah satunya Raudathul Jannah yang mengatakan jika apa  yang sudah dibagikan bang tere, sapaan akrab Tere Liye begitu berharga dan memotivasinya menjadi penulis juga.

“Banyak membaca dapat menambah pengetahuan saya tentang dunia. Kuncinya adalah latihan latihan dan latihan seperti bang tere yang selalu membagikan pengalaman-pengalamn berharga di setiap novelnya,” aku pelajar dari MAN 1 Medan tersebut.

Tere liye merupakan Novelis kawakan Indonesia yang sudah banyak menghasilkan novel-novel best seller. Karya nya seperti Hapalan Sholat Delisa, Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin, Rindu dan Negeri di Ujung Tanduk tak perlu diragukan lagi bahkan menyusul Hapalan Sholat Delisa, Daun yang Jatuh tak Membenci Angin, Ayah ku (Bukan) Pembohong, dan Rembulan Tenggelam di Wajahmu akan segera difilmkan.

Selama seminar, Tere Liye banyak bercerita seputar pengalamannya menulis. Ia mengaku jika novel yang ia tulis berulang kali ditolak penerbit. “Novel pertama yang saya tulis gagal, novel kedua yang saya tulis juga gagal bahkan novel ketiga yang saya tulis juga gagal, Barulah novel keempat diterbitkan Republika, judulnya Hapalan Sholat Delisa,” katanya.

Tere Liye menambahkan jika Hapalan Sholat Delisa awalnya tidak laku. Novel tersebut di tahun 2006 bahkan diletakkan bersebelahan dengan buku panduan belajar sholat dan beberapa kali mendapat cemoohan.

“Saya mendengar sendiri komentar mereka jika yang selama ini ada hanya hapalan sholat tahajjud, sholat istikharah dan sholat wajib, Mereka berceletuk, kok ini ada hapalan sholat delisa? Orang-orang tersebut bahkan menyebutnya sebagai bid’ah,” tambahnya.

Ia melanjutkan ceritanya jika setelah dua sampai tiga tahun berlalu barulah novel Hapalan Sholat Delisa mulai dikenal. Novel terakhirnya Bintang bergema seiring dengan kabar buruk yang mengatakan jika ia berhenti mnerbitkan buku.

“Meski begitu, saya tidak berhenti menulis. 2018 bisa saja saya ketik pengunguman di facebook mulai besok saya terbitkan buku lagi, kan selesai. Suami-isteri yang sudah cerai saja masih bisa rujuk kembali, apalagi cuma menerbitkan buku,” kata penulis yang memiliki nama asli Darwis tersebut.

Tere Liye mengaku sudah menulis sejak SD. Ia ingat bagaimana di usia 12 tahun menulis cerpen dan puisi yang dikirimkan ke majalah anak-anak seperti Bobo, “SMP saya sudah  terbiasa menulis dan SMA saya mulai menulis untuk media massa seperti Koran. Ketika   ditanya kapan harus mulai menulis, jawabnya ya sesegera mungkin apalagi jika kalian menyenangi dunia jurnalistik. Kalian harus mampu menaklukkan Koran-Koran yang ada di Medan,” akunya.

Seminar Nasional ditutup dengan pembagian door price kepada para peserta yang diambil secara acak melalui nomor tiket.

Reporter          : Novia Rizki Sitorus

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

'
Social Media Integration Powered by Acurax Wordpress Theme Designers
Visit Us On FacebookVisit Us On TwitterVisit Us On YoutubeVisit Us On Google Plus